Membayar Pajak Wujud Bela Negara

Pada pagi hari itu 19 Desember 1948, 71 tahun silam, langit Yogyakarta dikoyak – koyak oleh pesawat tempur Belanda. Gemuruh suara Pesawat Mustang dan Kittyhawk yang berputar-putar di atas Lapangan Udara (Lanud) Maguwo pagi itu membuat telinga berdenging dan jantung berdegup kencang. Pesawat-pesawat tempur milik Belanda itu tiba-tiba menghujani Maguwo dengan bom. Di sisi timur kota, pesawat Dakota Belanda yang datang dari Lanud Andir Bandung, diam-diam juga menebar pasukan penerjunnya.

Pada waktu itu ketika Yogyakarta  menjadi ibu kota Republik Indonesia (RI) jatuh ke tangan Belanda dalam serangan tiba-tiba yang kemudian dikenal dengan Agresi Militer Belanda II. Soekarno, Hatta dan Sutan Sjahrir ditangkap dan diasingkan.

Sejak hari itu Belanda berulang kali menyiarkan berita bahwa RI sudah bubar karena para pemimpinnya telah ditangkap dan ditahan. Namun, Syafruddin Prawiranegara yang sudah mendapat mandat dari para pemimpin RI sebelum ditangkap segera membentuk pemerintahan sementara yang dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Kota Bukitinggi menjadi kota Ibu Kota Negara Indonesia sekaligus kota perjuangan untuk mempertahankan eksistensi NKRI. PDRI terus berjuang melawan Belanda. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari kejaran dan serangan Belanda.

Peristiwa Agresi Militer Belanda II itulah yang akhirnya menjadi tonggak lahirnya semangat bela negara. Pada 18 Desember 2006, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia, tanggal 19 Desember akhirnya diperingati sebagai Hari Bela Negara. Meski dalam perjalanannya, Hari Bela Negara seolah hanya menjadi catatan peristiwa monumental yang nyaris kehilangan esensinya.

Saat ini, anak cucu pejuang kemerdekaan Indonesia bisa menghirup udara kemerdekaan. Namun, para penerus Bangsa ini tidak boleh berpangku tangan, melainkan harus tetap berjuang untuk menegakkan Indonesia.  Wujud bela negara di era kemerdekaan ini tentu bukan lagi upaya pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam eksistensi negara. Namun, bela negara diwujudkan dengan ikut berperan aktif terhadap kemajuan bangsa dan negara, mulai dari moral, sosial, pembangunan, pendidikan ataupun peningkatan kesejahteraan bangsa.

Ancaman Indonesia saat ini sifatnya ancaman nonmiliter. Kalau dicermati, invasi dari satu negara ke negara lain sekarang ini tidak menjadi suatu tren untuk menguasai suatu negara. Negara tidak dikuasai secara fisiknya, tapi bisa diserang secara ideologinya, ekonominya, dan sisi lain selain pertahanan.

Salah satu wujud ikut berperan serta dalam menegakkan Indonesia adalah dengan taat membayar pajak. Sebab, membayar pajak juga merupakan perwujudan riil bela negara. Peran serta warga negara dalam membayar pajak merupakan usaha pembelaan negara untuk memberikan kontribusi tak langsung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan bangsa.

Pajak adalah sumber penerimaan terbesar untuk negara. Uang hasil pajak dialokasikan untuk membiayai kegiatan rutin pemerintahan dan melanjutkan pembangunan. Tanpa ada pembayaran pajak, negara secara ekonomi dan politik akan lemah. Oleh karena itu, membayar pajak merupakan bentuk cinta tanah air dan rela berkorban dari masyarakat. Penerimaan yang berasal dari pajak juga dapat menopang kedaulatan negara—kemampuan negara dalam mengelola negaranya tanpa campur tangan pihak mana pun.

You May Also Like